Rabu, 04 Mei 2011

Karakteristik Kesulitan Belajar


                               kondisi kesulitan belajar
memiliki beberapa karakteristik utama, yaitu:
1.  Gangguan Internal
Penyebab kesulitan belajar berasal dari faktor internal, yaitu yang berasal dari
dalam anak itu sendiri. Anak ini mengalami gangguan pemusatan perhatian,
sehingga kemampuan perseptualnya terhambat. Kemampuan perseptual yang
terhambat tersebut meliputi persepsi visual (proses pemahaman terhadap objek
yang dilihat), persepsi auditoris (proses pemahaman terhadap objek yang
didengar) maupun persepsi taktil-kinestetis (proses pemahaman terhadap objek
yang diraba dan digerakkan). Faktor-faktor internal tersebut menjadi penyebab
kesulitan belajar, bukan faktor eksternal (yang berasal dari luar anak), seperti
faktor lingkungan keluarga, budaya, fasilitas, dan lain-lain. 
2.  Kesenjangan antara Potensi dan Prestasi
Anak berkesulitan belajar memiliki potensi kecerdasan/inteligensi normal, bahkan
beberapa diantaranya di atas rata-rata. Namun demikian, pada kenyataannya
mereka memiliki prestasi akademik yang rendah. Dengan demikian, mereka
memiliki    kesenjangan yang nyata antara potensi dan prestasi yang
ditampilkannya. Kesenjangan ini biasanya terjadi pada kemampuan belajar
akademik yang spesifik, yaitu pada kemampuan membaca (disleksia), menulis
(disgrafia), atau berhitung (diskalkulia). 
3.  Tidak Adanya Gangguan Fisik dan/atau Mental
Anak berkesulitan belajar merupakan anak yang tidak memiliki gangguan fisik
dan/atau mental.

Kondisi kesulitan belajar berbeda dengan kondisi masalah belajar berikut ini:
a.  Tunagrahita (Mental Retardation)
Anak  tunagrahita memiliki inteligensi antara 50-70. Kondisi tersebut
menghambat prestasi akademik dan adaptasi sosialnya yang bersifat menetap.
b. Lamban Belajar (Slow Learner)
Slow learner adalah anak yang memiliki keterbatasan potensi kecerdasan,
sehingga proses belajarnya menjadi lamban. Tingkat kecerdasan mereka sedikit di
bawah rata-rata dengan IQ antara 80-90. Kelambanan belajar mereka merata pada
semua mata pelajaran. Slow learner disebut anak border line (”ambang batas”),
yaitu berada di antara kategori kecerdasan rata-rata dan kategori mental
retardation (tunagrahita)
c.  Problem Belajar (Learning Problem)
Anak dengan problem belajar (bermasalah dalam belajar) adalah anak yang
mengalami hambatan belajar karena faktor eksternal. Faktor eksternal tersebut
berupa kondisi lingkungan keluarga, fasilitas belajar di rumah atau di sekolah, dan
lain sebagainya. Kondisi ini bersifat temporer/sementara dan mempengaruhi
prestasi belajar. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar